SBY Hadiri Perayaan Seba Baduy di Banten



BERITAHARIAN24  - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ditemani sang istri Ani Yudhoyono menghadiri perayaan Seba Baduy di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten. Dengan mengenakan iket, SBY langsung disapa oleh para warga Lebak.

Beberapa warga pun banyak yang ingin meminta foto bersamanya. Setelah itu, SBY mengikuti acara ritual bersama para warga Baduy.

Perayaan Seba 2018 yang dinamakan "Seba Leutik" dihadiri ribuan orang. Menurut Kepala Desa Adat bagian pemerintahan bernama Jaro Saija, tahun ini ada warga Baduy Dalam dan Baduy Luar yang mengikuti perhelatan tersebut.

Ada sekitar 47 orang dari Baduy Dalam yang mengikuti perhelatan Seba. Mereka jalan kaki sekitar pukul 04.00 WIB menuju pendopo. Sedangkan Baduy Luar ada ribuan orang dan mereka mengunakan mobil untuk menuju tempat yang sama.

"Kali ini dinamakan Seba Leutik karena hanya membawa hasil bumi dan tidak membawa alat masak. Kalau Seba besar kami membawa perlengakapan lengkap untuk dibawa ke Bupati."

Dia mengatakan, warga Baduy berharap alam dan seluruhnya lebih baik. Mereka juga menuntut pemerintah daerah soal pencantuman kepercayaan dalam KTP.

Sementara itu, SBY dan sang istri Ani Yudhoyono, sempat akrab berbincang dengan warga suku Baduy.


"Ini merupakan warisan nenek moyang kita. Tadi dialognya segar. Baduy, dengan segala nilai budaya dan adatnya. Saya senang sekali, Pemerintah Lebak dan Baduy memperhatikan mereka semua," kata SBY, usai menghadiri Seba Baduy, di Pendopo Kabupaten Lebak, Banten.

Apaa Itu Seba Baduy?



Seba Baduy, sebuah prosesi adat yang telah berlangsung sejak ratusan tahun. Bahkan, ada yang meyakini telah berlangsung sejak tahun 1526 Masehi. Saat Kerajaan Demak memperluas wilayah kekuasaannya ke Banten dan mendirikan Kesultanan Banten.

Sebanyak 1.388 masyarakat Suku Baduy Dalam dan Luar, melaksanakan prosesi adat para leluhurnya. Baduy Dalam berjalan kaki tanpa alas, sedangkan Baduy Luar menaiki kendaraan roda empat.

Mereka membawa hasil bumi yang didapatnya dari hasil berladang. Baduy Dalam memikulnya dengan berjalan kaki sepanjang puluhan kilometer. Melewati sawah dan hutan, dari kampung adatnya menuju Pendopo Kabupaten Lebak.

Upacara adat Seba digelar setelah Urang Kanekes, melaksanakan Puasa Kawalu selama tiga bulan dan musim panen tiba. Selama tiga bulan itulah masyarakat luar dilarang memasuki wilayah Baduy Dalam, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.

Usai puasa, mereka pun menggelar rapat adat, untuk menetapkan tanggal kapan dilaksanakannya Seba.

Seba memiliki makna ketaatan dalam melaksanakan amanah leluhur, yang harus tetap dilakukan dalam keadaan apapun. Ketaatan dalam menjaga kelestarian alam, menghormati para leluhur hingga pimpinan.

Dimana, ketaatannya terlihat dari pemberian hasil bumi Suku Baduy ke pemerintah di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten. Selain itu, mereka pun bersilaturahmi ke pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.

Bagi Suku Baduy Dalam sendiri, biasanya mereka berangkat sebelum menyingsing. Sebelum berjalan kaki, mereka akan nginang atau makan Rajah yang telah didoakan pada malam sebelum keberangkatan.

Dengan berjalan kaki tanpa alas, mereka menelusuri sawah dan hutan di Kabupaten Lebak, hingga sampai di hulu Sungai Cigolear. Mereka melakukan upacara adat Damarwilis atau bersuci.

Tujuannya, agar kesalahan yang telah dilakukan dan kekurangan di setiap diri warga Baduy peserta Seba, dapat dmaafkan oleh Yang Maha Kuasa.

Setelah bersih-bersih, para Suku Baduy Dalam ini melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju Kecamatan Leuwidamar untuk bersilaturahmi dengan pihak kecamatan, lalu di lanjutkan menuju Pendopo Kabupaten Lebak.


Mereka menginap semalam di Pendopo Kabupaten Lebak, dengan hiburan wayang golek semalam suntuk. Esoknya, Sabtu 21 April 2018, melanjutkan perjalanan menuju Pendopo Lama Gubernur Banten, untuk melakukan Seba di Kota Serang.

No comments:

Powered by Blogger.