Pembunuh Gadis Dalam Kardus Jatuh dari Kamar Mandi, Sidang Tuntutan Ditunda

Sidang pembunuh Rika Karina, gadis cantik berusia 21 tahun yang dimasukkan dalam kardus dan ditinggalkan di sepeda motor ditunda oleh Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Medan.

Terdakwa tunggal, yakni Hendri alias Ahen (30) diketahui tak bisa dihadirkan lantaran kondisi kesehatannya kurang baik.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martias Iskandar yang mengadili perkara pembunuhan tersebut mengatakan Ahen jatuh dari kamar mandi beberapa hari lalu.

"Sidang tuntutan kasus dugaan pembunuhan dengan terdakwa Hendri ditunda. Terdakwa sedang sakit dan dirawat di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan, karena terjatuh dari kamar mandi hingga kakinya keseleo pada Kamis (24/1/2019) silam," ujarnya.    BANDAR TOGEL ONLINE

Marthias mengatakan bahwa terdakwa status tahanannya berada dalam wewenang hakim. Imbuhnya, Jika ada penetapan hakim menyatakan dirawat di luar (Rutan), maka kejaksaan siap mengeksekusi dengan syarat keluarga terdakwa harus membuat surat permohonan ke hakim terlebih dahulu.

Saat disidangkan ke Pengadilan Negeri Medan, Amatan Tribun Medan, Hendri berjalan tertatih-tatih lantaran salahsatu kakinya ditembak oleh personel kepolisian saat melakukan penangkapan.

JPU Mattias Iskandar dan Chandra Naibaho, pada Februari 2018, mendakwa Hendri dengan Pasal 338 jo Pasal 351 ayat (3) KUHPidana.

Peristiwa bermula saat Hendri pergi ke Millenium Plaza Medan untuk membeli produk bedak kosmetik kepada Rika (korban) sebanyak dua buah bedak dengan harga Rp 250.000.

"Tiga minggu kemudian, terdakwa menelepon korban dan memesan bedak tersebut sebanyak tujuh paket dengan harga Rp 1.800.000. Terdakwa menyerahkan uang tersebut dan korban berjanji akan memberikan bedak paling lambat 4 hari," kata JPU dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Masrul.           AGEN TOGEL ONLINE

Setelah 4 hari, mereka bertemu di depan Millenium Plaza untuk transaksi. Sebulan kemudian, terdakwa kembali memesan tujuh paket bedak seharga Rp 1.750.000. Akhir bulan, korban bertanya kepada terdakwa kenapa tidak mengambil bedak kosmetik lagi.


"Barang (bedak) kamu mahal kali, saya udah cek di Pajak Sambas harganya Rp 230.000," jawab terdakwa Hendri.

Korban setuju dengan harga tersebut. "Ya udah aku ambil 17 paket tapi jangan lama-lama dengan harga Rp 4.170.000," ujar terdakwa kepada korban.

Uang itu diserahkan terdakwa kepada korban di SPBU dekat Millenium Plaza Medan keesokan harinya. Setelah 5 hari, korban mengatakan barangnya overload dan berjanji akan memberikannya 4 hari lagi.



Namun, terdakwa tidak mau dan meminta uangnya kembali. Perdebatan panjang berlangsung di telepon. Pada Selasa tanggal 5 Juni 2018 jam 22.10 wib, korban datang ke rumah terdakwa dengan mengendarai kereta Honda Scoopy warna putih BK 5875 ABM.

Kepada terdakwa, korban menjelaskan bahwa bedak dengan merk tersebut barangnya overload. Alhasil, keributan terjadi karena terdakwa ingin meminta kembali uangnya. Merasa emosi saat itu, terdakwa mengambil pisau diatas meja dan langsung menusuk ke leher korban.

"Selain itu, terdakwa juga menyayat tangan kanan dan kiri hingga korban tewas. Usai tewas, terdakwa membawa mayat korban ke kamar mandi dan memasukkannya ke dalam koper," ujar JPU dari Kejari Medan itu.

Terdakwa juga membalut mayat korban dengan kain abu-abu. Selanjutnya, terdakwa memasukkan mayat korban ke dalam kotak mamy poko dan melakbannya.     PREDIKSI HONGKONG

"Setelah itu, terdakwa menggunakan kereta korban membawa mayat yang terbungkus kotak menuju Jalan Amir Hamzah. Terdakwa meninggalkan mayat dan kereta korban di Jalan Karya Medan," tandas Martias.

Lalu, terdakwa menyetop betor dan pulang ke rumah. Di rumah, terdakwa mengambil barang-barang milik korban berupa sandal, jaket, tas sandang dan dibuang ke Sungai Deli di Titi Papan. Pada Kamis tanggal 7 Juni 2018 sekitar jam 03.00 wib, petugas kepolisian menangkap terdakwa di rumahnya.

No comments:

Powered by Blogger.