Terungkap Motif Ibu Kandung Biarkan Dua Putrinya Dirudapaksa Ayah Tirinya

kekerasan seksual terhadap anak tidak lagi mengenal wilayah teritorial, baik ruang  publik maupun privat  sama- sama berbahaya bagi mereka.

rumah mungkin dapat melindungi mereka dari  terik matahari atau guyuran hujan,tetapi tidak dengan kekerasan seksual.

pada sabtu (9/2/2019) kepolisian  resor metro jakarta  selatan merilis dua kasus  pencabulan  yang di alami oleh dua anak perempuan di bawah umur,KN(15)DAN dm(15)

mereka berdua di cabuli di rumah sendiri,pelakunya bukan orang jauh,ayah tiri dan ibu kandung sama-sama berbuat tidak senonoh terhadap korban.    BANDAR TOGEL ONLINE

kasusu ini menyita  lantaran  adanya peran ibu kandung  dalam propses  pencabulan itu M.(39) ibu kandung KN bungkam ketika di tanya   terkait tindakkan itu.

penyidik pun belum bisa  menyimpulkan lebih jauh  terkait motif M melakukan itu.

sementara  I (45) ibu kandung DM, menyatakan bahwa  perbuatan cabul itu  untuk melindungi anaknya,dia meyakini anaknya terkena  kutukan karena I penah  menikah sesuku dengan suami pertama.

Psikolog sosial Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, ketika dihubungi pada sabtu (9/2/2019), menilai, ada masalah kepribadian yang mungkin dialami kedua pasangan suami istri tersebut.

banyak faktor yang bisa memicu  orang tua melakukan hal itu seperti adanya trauma di masa lalu atau pun masalah di sosial lain.

”Butuh intervensi khusus untuk mengetahui penyebab pelaku melakukan tindak kejahatan ini kepada anaknya. Faktornya lebih bersifat spesifik perorangan,” kata Ratna.

Ia menyarankan korban untuk melakukan konseling intensif dari pakar profesional untuk mengatasi trauma. Penanganan trauma itu tergantung sejauh mana tingkat trauma yang dialami anak.

”Bantuan profesional, baik dari psikolog klinis maupun psikiater, sangat diperlukan sampai kondisi anak benar-benar baik. Tidak cukup hanya menjauhkan anak dari keluarga atau lingkungannya,” ujarnya.        JUDI ONLINE

Komisioner Bidang Sosial dan Anak dalam Kondisi Darurat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susianah Affandy, mengatakan, kasus itu merupakan cerminan dari disfungsi keluarga.

Keluarga yang semestinya berperan melindungi anak justru menjadi pelaku kasus kekerasan seksual.

Ketika sebuah keluarga bercerai, lantas ibu menikah lagi sehingga anak mendapat ayah tiri, di sini potensi kekerasan seksual terhadap anak terbuka lebar.

”Akan tetapi, dari laporan yang masuk ke KPAI, kasus kekerasan seksual yang melibatkan ibu kandung ini tergolong baru,” kata Susianah.

Meski temuan baru, paradigma yang mendasari perbuatan tercela itu tidak berubah. Orangtua menganggap anak sebagai properti dan hak milik sehingga dengan sendirinya bebas dieksploitasi.

Ini berkelindan pula dengan rasa kecewa orangtua atas kegagalan rumah tangga sebelumnya. Susianah merujuk pada kasus penyiksaan anak yang dilakukan seorang bapak di Filipina.

Bapak itu tega mengikat anaknya, lantas memukul dan merekamnya melalui video. Alasannya? Dia dendam kepada istri yang meninggalkannya.


Susianah menyatakan, hal itu bisa saja berlaku bagi pihak istri.

Penanganan korban

Nasi sudah telanjur menjadi bubur. Dua pasangan suami istri di Jakarta Selatan itu telah ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Bagaimana dengan korban?

Susianah menyarankan, harus ada proses rehabilitasi medis, mental, dan sosial.

Namun, yang tak kalah penting dari semua itu adalah korban harus dapat diterima oleh lingkungannya kembali. Ia menyebut ini sebagai reintegrasi sosial.   

”Ketika reintegrasi sosial ini gagal, korban akan memilih lingkungan yang lebih bisa menerimanya, salah satunya tempat pelacuran,” katanya.    PREDIKSI SYDNEY

Di samping itu, proses rehabilitasi medis dan mental terhadap korban harus dipastikan sampai tuntas. Jika tak tuntas, korban berpotensi menjadi pelaku di hari depan.

Sepanjang 2018, KPAI menangani 175 kasus yang melibatkan anak sebagai korban kekerasan seksual. Lantas, apakah angka ini akan dibiarkan terus bertambah?

No comments:

Powered by Blogger.