INILAH KRONOLOGI LENGKAP 6 FAKTA Pengakuan Kedua Tersangka Pembunuh Pendeta Melinda

Akibat perbuatannya kedua tersangka di jerat dengan pasal 338 Jo 365 dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup karena perbuatan kedua telah di rencanakan,” kata Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara.

Terungkap sejumlah fakta dari kronologi berikut menurut pengakuan para tersangka setelah digelarnya paparan, Jumat (29/3/2019).

Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara menegaskan tidak adanya unsur pemerkosaan dalam kasus kematian karena pembunuhan calon pendeta Melindawati Zideni.

Hal ini disampaikan Jenderal bintang dua ini di saat paparan para tersangka di halaman Mapolda Sumatera Selatan, Jumat (29/3/2019).

1. Batal memperkosa karena korban haid 

Pengakuan kedua tersangka, saat ingin melakukan aksi pemerkosaan, korban (Melindawati) saat itu tengah 'datang bulan' (haid).

Karena haid, kedua tersangka tidak jadi memperkosanya.

Tapi di antara tersangka, Hendri (20) sempat memasukkan secara paksa dua jarinya ke alat vital korban.

Sedangkan Anang (18) mencekik leher korban hingga meninggal dunia karena kehabisan napas.

"Memang ada niat kedua tersangka mau perkosa korban. Namun karena korban haid, tidak jadi. Hanya pelecehan seksual, (maaf) dengan memasukkan dua jarinya Hendri sebelum di bunuh,” jelas mantan Kapolda Riau tersebut.

Lanjut Irjen Zulkarnain, dari hasil visum dokter RS Bhayangkara juga menjelaskan, bahwa (maaf) di alat vital korban ada lecet karena tersangka ada memasukan dua jari secara paksa.

"Melalui pemeriksaan otopsi ditemukan bahwa tidak ada persetubuhan. Tersangka memang melakukan pencabulan dengan memasukkan tangannya ke (maaf) alat vital korban," katanya.

2. Korban sempat meminta tolong agar jangan membunuhnya

Di saat terjadinya aksi pencabulan, kain penutup wajah Hendri terbuka.

Kedua tersangka langsung panik.
Korban pun sempat memohon agar jangan membunuhnya karena korban mengenali tersangka Hendri.

Namun, permohan korban diabaikan kedua tersangka, karena keduanya takut jika korban akan melapor ke polisi.

Tersangka Anang pun menghabisi nyawa calon pendeta asal pulau Nias Sumatera Utara tersebut dengan tetap mencekik leher korban.

3. Pura-pura ikut mencari korban bersama warga

Lebih lanjut polisi bintang dua di pundaknya ini mengatakan, setelah korban tewas, mereka membuang korban ke semak-semak.

Setelah membung ke semak-semak, kedua kedua tersangka pulang ke tempat tinggalnya dan bersikap seolah-olah tidak ada kejadian yang baru saja mereka membunuh Melinda.

Bahkan keduanya juga pura-pura ikut mencari korban Melinda bersama warga sekitar.

4. Saling kenal karena tempat tinggal tidak jauh

Kedua tersangka dan korban saling kenal.
Tempat tinggal mereka tidak berjauhan.
Tersangka Nang mengaku suka dengan korban.

Namun korban mengatakan tersangka Nang jelek.

Dari situ Nang pun merencanakan akasinya bersama Hendri.

"Kasus Ini hanya motif dendam asmara yang tidak kesampaian, tersangka naksir pada korban. Hingga keduanya pun merencanakan itu," ujar Kapolda Irjen Pol Zulkarnain.

5. Memalang Jalan saat korban hendak pulang

Hendri dan Nang memalang jalan saat korban sedang pulang ke tempat tinggalnya.

Awalnya kedua tersangka ini hanya ingin memperkosa korban Melinda.

Aksi yang telah mereka rencanakan berdasarkan ide dari Nang.

Saat korban melintas bersama Nita (11)  di jalan yang sudah dipalang dengan balok sepanjang 2 dan 3 meter, kedua tersangka langsung mengeksekusi.

Kedua korban pun langsung ditangkap oleh kedua tersangka dan diseret ke dalam semak-semak di arel perkebunan, Selasa (26/3/2019) malam.

Melinda dan Nita (11) sempat berontak dan melawan, tapi kalah tenaga dari kedua tersangka.

Bocah Nita diikat dengan karet ban dalam sepeda motor.

Sedangkan Hendri dan Nang melancarkan aksinya untuk memperkosa korban Melinda.

Di saat kedua tersangka sibuk mengerjai korban Melinda, Nita berhasil  meloloskan diri dan pulang ke rumahnya.

Nita pun memberitahukan kepada orangtuanya dan sekaligus dia menjadi saksi kunci atas kematian calon pendeta cantik tersebut.

6. Kedua tersangka terancam hukuman mati atau seumur hidup

Tersangka Nang dan Hendri berhasil ditangkap aparat gabungan dari Polres OKI, Polda Sumsel, dan Polsek Air Sugihan.

Akibat perbuatannya kedua tersangka di jerat dengan pasal 338 Jo 365 dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup karena perbuatan kedua telah di rencanakan,” kata Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara.

Terungkap sejumlah fakta dari kronologi berikut menurut pengakuan para tersangka setelah digelarnya paparan, Jumat (29/3/2019).

Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara menegaskan tidak adanya unsur pemerkosaan dalam kasus kematian karena pembunuhan calon pendeta Melindawati Zideni.

Hal ini disampaikan Jenderal bintang dua ini di saat paparan para tersangka di halaman Mapolda Sumatera Selatan, Jumat (29/3/2019).

Barang bukti yang diamankan:

Dua unit sepeda motor.
Dua buah balok kayu ukuran panjang sekitar 2 dan 3 meter.
Sepeda motor pertama adalah jenis Honda Revo Hitam, diketahui merupakan kendaraan yang digunakan korban Melinda Zidemi.
Satunya lagi adalah sepeda motor jenis Yamaha Vixion hitam dengan BG 2743 RA yang digunakan pelaku saat melakukan kejahatannya.
Pakai korban dan pelaku
Tali dari ban dalam bekas
Serta bukti lainnya
Sebagaimana diketahui, pembunuhan sadis tersebut terjadi di areal Perkebunan PT PSM Divisi 3 Blok F 19 Dusun Sungai Baung, Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, pada  Selasa (26/3/2019) malam.



"Iya benar dua tersangka sudah diamankan sejak kemarin (Rabu). Jumat (29/3/2019) akan dipaparkan oleh Kapolda langsung," jelasnya.

Penangkapan itu setelah penyidik mendapatkan keterangan dari saksi yang merupakan masyarakat sekitar.

Dari sana petugas bergerak dan langsung bergerak menangkap kedua pelaku.

"Sempat tidak mengaku, tapi masyarakat melihat pelaku ada di sana (lokasi kejadian)," ujar dia.

Sementara Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi mengatakan, pemeriksaan awal motif pembunuhan MZ diduga karena asmara sehingga pelaku menyimpan kebencian kepada korban.

"Mereka sama-sama satu wilayah (Kabupaten OKI).

Diduga ada motif asmara,"kata Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Supriadi saat dikonfirmasi, Kamis (28/3/2019).

Namun, Supriadi belum bisa memberikan keterangan jelas motif asmara yang dimaksud karena masih dalam tahap pengembangan.

"Lebih lengkapnya Jumat (29/3/2019), karena akan dirilis," ujarnya.

Sementara, dari informasi yang dihimpun kedua pelaku berinisial Hen dan Nang.

Diketahui kedua pelaku adalah buruh di perkebunan sawit.

"Iya alhamdulilah belum sampai 48 jam tim dari Polda Sumsel, dan Polres OKI serta Polsek setempat sudah bisa menangkap pelaku dengan inisial Hen dan Nang. Besok akan di release setelah bukti tersangka merapat ke Polda," ujar Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara secara singkat saat dikonfirmasi.

Foto-foto dan Identitas Pelaku Tersebar Luas di Media Sosial.

Netizen membagikan foto dua pria yang diduga sebagai pelaku pemerkosa dan pembunuh calon pendeta itu. 

Bahkan foto-foto kedua pelaku saat diinterogasi di Polres juga tersebar.

Begitu juga halnya dengan foto kedua pelaku saat tiba di Polda Sumsel.



Kaki kedua pelaku dihadiahi timah panas polisi.

Sebelumnya, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara memastikan jika kasus pembunuhan MZ (24) yang merupakan calon pendeta menjadi atensi pihak kepolisian untuk menangkap para pelaku.

Menurut Zulkarnain, para pelaku telah melakukan aksi sangat kejam dengan tega memperkosa serta membunuh MZ tanpa ampun di areal perkebunan sawit.

"Pelaku sangat kejam, saya pastikan sikat pelakunya, saya komitmen. Sekarang masih dalam penyelidikan dan pengembangan," kata Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara di Palembang, Rabu (27/3/2019),

Jenderal bintang dua ini mengatakan, penyidik saat ini masih terus mengumpulkan bukti serta keterangan para saksi untuk mengungkap kasus tersebut.

Meski telah melakukan olah TKP lanjutan dilokasi kejadian, mereka belum bisa menyimpulkan motif pembunuhan tersebut.

"Motif, belum bisa diketahui, memang laporannya handphone korban hilang tapi masih kami selidiki, doakan saja. Kami bekerja secara full, ada masanya kasus gampang diungkap ada masa susah sekali, kalau didoakan mudah-mudahan gampang," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, MZ dibunuh oleh dua orang diduga pelaku ketika baru pulang dari pasar Jeti, Sungai Baung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). 

Korban sebelumnya berbelanja kebutuhan sehari-hari  bersama seorang muridnya inisial NP (9) pada Senin (25/3/2019) sore kemarin.

Namun kedua korban tak kunjung pulang hingga malam hari. 

Jemaat Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) pun dikejutkan ketika NP pulang dalam kondisi ketakukan. Gadis kecil itu mengaku jika mereka telah diculik oleh dua orang.

MZ pun ditemukan tewas dalam kondisi tanpa busana serta tangan dan kaki terikat.

Pembunuhan pendeta cantik bernama Melinda Zidemi ini pun sontak menggegerkan warga Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Nahas pendeta Melinda Zidemi menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan di sebuah perkebunan sawit di Areal PT PSM Divisi 3 Blok F 19 Dusun Sungai Baung Desa Bukit Batu Kecamatan Air Sugihan Kabupaten OKI, Selasa (26/3/2019).

Berikut rangkuman sederet fakta tentang pelaku pembunuhan calon pendeta Melindawati Zidoni, Sebelum Ditangkap pada Rabu (27/3/2019):
1. Berjumlah 2 Orang

Dijelaskan oleh seorang warga bernama Dodi, dirinya mengaku bertemu dengan korban dan bocah NT sedang berboncengan sebelum kejadian.

Diketahui, korban datang ke Divisi 1 dari mess tempat tinggalnya di Divisi 4.

"Jaraknya sekitar 2 kilometer. Dia datang mau ngurus gereja bersama anak kecil sekitar 11 tahun. Saat itu saya lihat sendiri mereka datang saat saya sedang bongkar bibit," kata Dodi Selasa (26/3/2019)

Lantas, sekitar pukul 17.00 WIB, korban dan NT kembali lagi ke Divisi 4.

Dijelaskan oleh Dodi, di tengah perjalanan keduanya dicegat oleh dua orang laki-laki.

Hal tersebut didapatkan dari keterangan korban NT yang berhasil menyelamatkan diri.

"Si anak berhasil meloloskan diri dan melapor ke Divisi 4," kata Dodi.

Selain itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi, juga menjelaskan bahwa korban berjumlah dua orang.

Supriadi menjelaskan bahwa saat kejadian tersebut korban sedang berboncengan dengan NT mengendarai sepeda motor Honda Revo Warna Hitam, list Merah menuju arah Pasar Jenti.

Di tengah perjalananya itu, korban kemudian diadang oleh dua orang pelaku yang menggunakan penutup kepala.

Dua pelaku tersebut memblokir jalan dan mengadang korban menggunakan kayu balok. 

2. Ciri-ciri Pelaku

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi menjelaskan ciri-ciri pelaku pembunuhan berdasarkan keterangan dari korban NT yang berhasil selamat.

"Pelakunya memiliki ciri ciri berbadan kurus dengan tinggi kurang lebih 165 Cm, menggunakan Baju Hitam dan memakai penutup wajah. Diduga kain sarung warna hitam sebagai penutup wajah," ujar Supriadi.

Saat melakukan aksinya itu, pelaku menghampiri korban dan langsung membawa korban ke areal sawit.

Di tempat itulah, kedua korban dicekik dan tangannya diikat.

Nahas, korban Melinda tewas sementara korban NT selamat setelah berhasil menyelamatkan diri. 

3. Polisi Menduga Korban dan Pelaku saling Kenal

Polisi menduga, dua orang pria yang membunuh Melinda adalah sosok yang dikenal oleh korban.

Hal tersebut terlihat dari keputusan pelaku memakai topeng untuk menutupi wajahnya.

Maksud pelaku mengenakan topeng, agar korban tidak mengetahui siapa yang sedang ditemuinya.

"Kalau dilihat, diduga korban ini kenal dengan pelaku. Makanya, pelaku ini menggunakan tutup wajah agar tidak diketahui korban," ujar Supriadi

Namun terkait penyelidikan lebih lanjut, kepolisian masih menunggu kondisi NT, korban selamat membaik.

Nantinya informasi penting terkait pembunuhan bisa didapatkan kepolisian dari keterangan bocah 9 tahun itu.

"Untuk kondisi NT, anak yang bersama korban saat ini masih syok. Dari korban NT inilah bisa mengetahui kejadian pembunuhan terhadap Melindawati," ujar Supriadi. 

4. Aksi Pelaku

Berhasil mengadang korban, pelaku langsung mendekati korban dan menyeretnya ke perkebunan sawit.

Saat itulah, korban dicekik dan tangannya diikat menggunakan karet bekas ban dalam motor.

Korban NT kemudian diketahui pingsan dan dibuang di semak-semak di areal perkebunan.

Sementara korban Melinda yang meninggal dibuang sekitar 100 meter dari lokasi pembunuhan.

Berdasarkan dugaan dari kepolisian juga, korban diduga diperkosa sebelum dibunuh.

Hal tersebut berdasarkan fakta yang didapatkan polisi tak lama setelah jasad korban ditemukan.

"Diduga korban Melindawati Zidoni, diduga sebelum dibunuh terlebih dahulu diperkosa. Untuk saat ini, kasus ini masih dalam penyelidikan," ungkap Supriadi

5. Pelaku Tidak Sadar Korban NT Masih Hidup

 rekan korban Melinda menjelaskan, korban NT sambil menangis berlari seorang diri dan meminta pertolongan.

Dirinya bahkan tidak mengenakan alas kaki dengan wajah penuh ketakutan menghampiri orang-orang yang sedang beribadah di gereja.

Dijelaskan oleh Arisman di RS Bhayangkara, korban NT bisa selamat dari aksi dua pelaku lantaran pelaku menduga korban sudah meninggal dunia.

"Karena dikira sudah tewas setelah dicekik, NT ditinggal sendiri. Mungkin dapat mukjizat dari Tuhan ternyata ikatan tangan korban lepas sehingga langsung kabur dan menuju gereja," kata Arisman, Selasa (26/3/2019).

6. Pelaku Tidak Ambil Barang Korban

Setelah NT membeberkan kejadian yang dialaminya, warga dan rekan korban Melinda melakukan penyisiran untuk mencari korban.

Saat itu, jasad korban kemudian ditemukan di perkebunan sawit dan ditutupi semak serta kayu oleh pelaku.

Di lokasi itu juga, warga menemukan sepeda motor korban yang terletak 300 meter dari penemuan jasad Melinda.

Hanya saja, di lokasi tersebut, warga tidak menemukan ponsel milik korban.

"Ponsel korban tidak ditemukan," jelas Arisman

Penuturan serupa juga diberikan oleh Dodi, warga yang turut melakukan pencarian korban Melinda. 

"Sepeda motor dan barang-barang lainnya masih ada. Jenazahnya ditutupi semak dan kayu," kata Dodi

7. Pengakuan NT, Korban Selamat

saksi mata, Diana (30) yang pertama kali melihat NT lari ketakutan membeberkan pengakuan korban terhadapnya.

Dijelaskan oleh Diana, saat itu dirinya melihat korban NT berlari menuju Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) Sungai Baung, Kabupaten OKI, Divisi IV.

Diana mengaku kaget saat melihat korban menangis sambil berlari.

Bahkan saat dihampiri, Diana mengaku semakin kaget seusai mendengar keterangan korban NT.

"'Tolong, tante (Melinda ) diculik'. NT bilang begitu sambil nangis ketakutan, kejadiannya malam kemarin," kata Diana Selasa (26/3/2019).

Setelah itu Diana kemudian mengabarkan pada warga lainnya untuk segera mencari korban.

Sebelum kejadian, Diana mengaku Melinda dan korban NT sempat mampir ke kediamannya di Divisi I setelah dari pasar Senin (25/3/2019) sore.

Saat itu Diana sempat meminta Melinda untuk mampir lantaran hari akan hujan.

"Sore kemarin itu mendung, saya bilang mampir dulu karena sudah mau hujan. Tapi MZ tetap memilih pulang, karena sudah malam," ujar Diana.

Diana juga sempat meminta korban untuk tetap tinggal dan menginap di rumahnya saja.

Nahas, penolakan yang diberikan oleh Melinda justru membuat dirinya dibunuh oleh dua pria dalam perjalanan pulangnya.

8. Tangis Keluarga Pecah

Tangis keluarga pendeta cantik Melindawati Zidemi pecah saat mendatangi rumah sakit Bhayangkara, Selasa (26/3/2019).

Sambil menangis tersedu-sedu, Yanti, adik kandung korban langsung memeluk erat keluarganya sesaat setelah dia tiba di depan Ruang Forensik Rumah Sakit Bhayangkara.

Tidak hanya pihak keluarga yang menangis haru. Tetangga dan jemaat gereja yang sama dengan korban juga ikut larut dalam suasana kesedihan.

Diana (30), kerabat korban di Sungai Baung mengaku sangat tidak menyangka bila Melindawati akan mengalami nasib nahas yang berujung maut.

"Karena jam 5 sore dia (Melindawati) sempat mampir ke rumah saya. Saya sempat mengingatkan dia supaya cepat pulang. Hari sudah sore, belum lagi hujan deras. Saya bilang bahaya kalau lama-lama di luar," ujarnya.

Diana mengungkapkan saat itu, Melindawati baru pulang dari pasar bersama Nita Pernawan (9) anak jemaat di satu gereja yang sama dengan korban.

"Saat itu nggak ada sama keluhan dia (Melindawati) soal dikejar atau diikuti orang lain, biasa saja. Dia juga nurut dan bilang langsung mau pulang," ucapnya.

Baru sekitar pukul 22.00 WIB, Diana mendengar kabar Melindawati hilang.

"Anak itu bilang, tante aku diculik," ujarnya.  

Pihak kerabat langsung panik dan segera melakukan pencarian untuk menemukan korban.

"Kemudian jenazahnya kami temukan sekitar 4 kilometer dari mess dia di sana," ujarnya.

9. Jenazah diberangkatkan ke Nias Selatan

Rabu (27/3/2019) jenazah MZ (24),diberangkatkan pulang ke kampung halamannya untuk dimakamkan di Pulau Nias, Sumatera Utara lewat jalur darat.

Jenazah MZ diberangkatkan dari Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) di Jalan Sumoharjo, Palembang sekitar pukul 10.00 WIB dengan menggunakan mobil ambulans.

Para sahabat korban juga ikut menghadiri ibadah pemberangkatan jenazah tersebut.

Dewistina Finowa'a (24) yang merupakan rekan satu angkatan MZ mengatakan, jenazah MZ diperkirakan sampai ke kampung halamannya Tanah Hibala, Pulau Nias Selatan sekitar Kamis (28/3/2019) sore.

"Tadi pakai mobil ambulans langsung diberangkatkan lewat jalur darat ke Padang. Baru akan menuju ke rumah korban memakai speedboat," kata Dewistina, ditemui di GKII, Rabu.

10. Ditemukan Bercak Sperma

Usai dilakukan visum luar di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, tim Laboratorium Forensik Polda Sumatera Selatan mendapatkan bukti berupa sperma yang diduga milik para pelaku pemerkosaan serta pembunuhan terhadap calon pendeta berinisial MZ (24).

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Rabu (27/3/2019).

Supriadi mengatakan, korban diduga tewas setelah mengalami cekikan dileher oleh pelaku.

Selain itu, terdapat luka memar di sekitar leher korban hingga menyebabkan MZ tak bisa bernafas. 

"Ada bercak sperma ditubuh korban, diduga itu milik pelaku," kata Supriadi.

Ia melanjutkan, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnian Adinegara telah memerintahkan para penyidik untuk kembali mendatangi lokasi tempat kejadian di areal PT PSM Divisi 3 blok F19 Dusun Sungai Baung, Desa Bukti Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI.

"Ada satu anjing pelacak juga diturunkan untuk mencari jejak pelaku. Sekarang tim masih di lapangan, melakukan olah TKP ulang," ujar dia. 

No comments:

Powered by Blogger.